Nias Selatan - Polemik yang terjadi di kantor kementerian agama kabupaten Nias Selatan semakin hangat diperbincangkan. Akibatnya, permasalahan di kantor Kemenag Nias selatan membuat suasana kantor menjadi tidak kondusif.
Kabar yang beredar, karena ketidak hadiran pemimpin Plh.Kakan Kemenag Nias Selatan Dr. martinus Harefa membuat ketiga pejabat di Kemenag Nisel diduga menjadi semena-mena terhadap peserta PPG dalam proses penginputan data disimpatika.
Hal tersebut berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber yang akurat.
Salah seorang oknum Kasi Pendidikan Kristen LINMAR YURMINA ZEBUA diduga dengan sengaja menyerahkan password simpatika kepada orang lain yang tidak sesuai analisis jabatan (ANJAB) dan analisis beban kerja (ABK) sehingga berpotensi orang tersebut dapat diduga mempermainkan data guru PPG, akibatnya banyak yang tidak lulus dalam seleksi berkas. Padahal password simpatika itu hanya di ketahui oleh Kasi Pendidikan Kristen dan kepala operator.
Dalam pelayanan simpatika PPG diduga permainan dibalik pendataan tersebut yang mana indikatornya menurut informasi pendataan simpatika PPG guru-guru agama kristen yang seharusnya hanya butuh 3 menit tiap orang untuk menyetujui atau tidak menyetujui berkas pendaftaran di simpatika PPG.
Tetapi yg terjadi banyak peserta yang mengeluhkan data simpatika PPG para guru hingga berhari-hari tidak terlayani. Namun sangat disayangkan diduga para guru dari pelosok banyak tidak lulus berkasnya.
Sementara, Kasubbag TU a.n. MILA KARNI SITOMPUL diduga bertindak sewenang-wenang dengan mengintimidasi dan menakut-nakuti semua pegawai dengan mengatakan bahwa semua aturan ini saya laksanakan karena atas perintah pimpinan.
Begitu juga MARS PEMILU DAWOLO sebagai penyelenggara haji di Kemenag Nisel tetapi ianya mengaku telah menerima jabatan dari Plh Kakan Kemenag Dr. Martinus Harefa untuk mengendalikan, mengamankan dan bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu proses pekerjaan di Kemenag Nisel.
Padahal MARS PEMILU DAWOLO hanya sebagai penyelenggara haji dan tidak bisa menguasai atau mengendalikan setiap pekerjaan di tiap satuan kerja, padahal seyogianya hanya memiliki jabatan penyelenggara haji, tapi kenyataannya sesuai dengan pernyataan dia yang pengendali sebagai satker.
Seharusnya pelayanan di Kemenag Nisel harus memberi teladan terdepan bagi masyarakat Nias Selatan sebagai daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar).
Demi menjaga kredibilitas informasi tersebut, sejumlah awak media mencoba mengkonfirmasi kepada ketiga pegawai di Kemenag Nisel, namun sangat disayangkan tidak bisa dijumpai dan menghindar dari wartawan/Media.(Ed)